10 Tahun Jadi PMI Hong Kong Demi Toga Anak
Sepuluh tahun jauh dari anak bukan hal mudah. Ini kisah Rina, PMI Hong Kong, yang bertahan demi melihat anaknya diwisuda.
Sepuluh tahun lalu, aku cuma ibu rumah tangga biasa di sebuah desa kecil di Blitar. Suamiku kerja serabutan, penghasilan tidak menentu. Uang sekolah anak semata wayangku sering telat dibayar.
Malam itu aku menangis sambil menghitung utang warung yang menumpuk. Aku bingung harus mulai dari mana untuk membenahi keadaan. Aku dengar dari teman, bahwa aku bisa merantau kerja di luar negeri. Akhirnya aku dan suami berdiskusi dan memutuskan, "Aku harus pergi merantau di luar negeri, demi keluargaku, demi masa depan anakku."
Keputusan itu tidak mudah. Suami sempat ragu, ibuku menangis waktu tahu aku akan pergi jauh. Tapi bayangan anakku putus sekolah membuat aku tetap kuat pada pilihanku. Dan bersyukurnya semua proses boleh berjalan lancar dan aku bisa berangkat sebagai PMI Hong Kong.
Kaget di Hari Pertama
Hari pertama tiba di Hong Kong, aku gugup setengah mati. Bahasa Kanton yang asing, gedung-gedung tinggi, majikan yang bicara cepat semua bikin kepalaku pusing.
Minggu pertama, aku sering salah paham perintah majikan. Aku dimarahi majikan setiap hari. Rasanya pengen pulang aja waktu itu. Tapi aku ingat wajah anakku sebelum berangkat, dan aku kuatkan hati untuk bertahan.
Hari-hari berikutnya pun tidak langsung mudah. Aku masih sering salah memasak menu yang diminta, atau telat paham instruksi karena bahasa yang belum lancar. Tapi sedikit demi sedikit, aku belajar dari kesalahan itu.
Titik Balik: Dari Menangis Jadi Kuat
Tahun kedua, aku mulai terbiasa. Aku belajar bahasa dasar dari teman sesama PMI, ikut kumpul komunitas tari tiap hari libur, dan mulai bisa mengatur gaji dengan lebih rapi.
Setiap kali rindu memuncak, aku video call anakku sambil pura-pura kuat. Habis telepon, aku sering nangis sendiri di kamar. Tapi besoknya aku bangun lagi, kerja lagi, demi satu tujuan. Aku bertahan bukan karena betah, tapi karena butuh.
Majikan pertama memang keras, tapi setahun kemudian aku pindah ke keluarga yang jauh lebih baik. Dari situ aku belajar, kalau lingkungan kerja tidak sehat, jangan takut mencari jalan keluar.
Sejak pindah majikan, hidupku jadi lebih tenang. Aku mulai bisa menabung rutin tiap bulan, sedikit demi sedikit, sambil terus memantau kabar anakku dari jauh.
Toga yang Kutunggu 10 Tahun
Waktu terus berjalan, dan tanpa terasa sepuluh tahun sudah aku lewati jauh dari rumah. Bulan lalu, video call itu berbeda dari biasanya. Anakku memakai toga wisuda, tersenyum lebar sambil bilang, "Ini gelarku buat Ibu."
Sepuluh tahun jadi PMI Hong Kong, jauh dari rumah, menahan rindu tiap malam, semua rasanya terbayar lunas di detik itu. Air mataku tumpah, tapi kali ini air mata bahagia.
Untuk teman-teman yang baru mau berangkat atau sedang berjuang di titik terberat: rindu itu wajar, capek itu manusiawi. Tapi percayalah, perjuangan sebagai PMI Hong Kong ini tidak akan sia-sia. Suatu hari, kado terindah itu akan datang juga untuk kita.