Dari Cirebon ke Korea: Perjalanan Agi Menjadi PMI

Agi, pemuda asal Cirebon merantau ke Korea demi keluarga dengan membawa doa, tekad, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik.

Share
Dari Cirebon ke Korea: Perjalanan Agi Menjadi PMI
Agi, pemuda asal Cirebon, calon PMI Korea (Dok. TemanRantau)

Bagi Agi (25), keputusan bekerja ke Korea Selatan bukan sekadar mencari penghasilan yang lebih baik. Pemuda asal Cirebon yang sebelumnya bekerja sebagai mekanik bengkel ini melihat kondisi pekerjaan di Indonesia yang semakin sulit, ditambah keadaan ekonomi keluarga, sebagai alasan untuk mencari peluang baru di negeri orang.

Sebagai anak laki-laki dari dua bersaudara, Agi merasa punya tanggung jawab untuk membantu keluarga. Ayahnya telah berpisah dari sang ibu, sementara adiknya masih duduk di bangku SMA. Keadaan itu semakin menguatkan langkahnya untuk menjadi PMI dan mencari masa depan yang lebih baik bagi dirinya dan keluarga.

Bukan Perjalanan yang Instan

Menjadi PMI ternyata bukan sekadar mendaftar lalu berangkat. Agi harus melewati berbagai tahapan, mulai dari belajar bahasa Korea, tes kemampuan, hingga wawancara langsung dengan orang Korea. Sebelum mendaftar, ia juga harus membereskan administrasi, termasuk memperbaiki data nama orang tua di Kartu Keluarga yang mengharuskannya mengurus dokumen di Cirebon. 

Setelah semua proses dilalui, ia masih harus menunggu. Sementara sertifikat yang menjadi bagian dari proses memiliki masa berlaku. Artinya, setiap tahapan harus dipersiapkan dengan serius agar apa yang sudah diperjuangkan tidak sia-sia begitu saja.

OPP Mengajarkan Lebih dari Sekadar Persiapan Berangkat

Mengikuti OPP menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi Agi. Ia tidak hanya dipersiapkan untuk bekerja, tetapi juga dilatih menghadapi kehidupan sebagai perantau melalui kedisiplinan, seperti bangun sebelum subuh dan menjalani rutinitas teratur. Selain itu, di OPP Agi mendapat pembekalan tentang pengelolaan keuangan dan berbagai hal penting bagi PMI. Baginya, bekal tersebut sangat berarti karena bekerja di luar negeri bukan hanya tentang mendapatkan penghasilan, tetapi juga bagaimana menjaga diri dan mengelola hasil kerja untuk masa depan.

Yang Paling Berat Bukan Korea, tetapi Meninggalkan Ibu

Di balik semangatnya menuju Korea, ada satu hal yang membuat hati Agi terasa berat, yaitu meninggalkan ibunya.

Sang ibu yang berusia sekitar 50-an tahun merupakan orang yang selama ini dekat dengannya. Mereka bukan hanya ibu dan anak, tetapi juga seperti teman. Sehingga meninggalkan rumah bukan perkara mudah. Ada rasa kasihan, khawatir, sekaligus sedih yang bercampur menjadi satu. Namun, Agi memilih untuk tidak memendam perasaannya.

Hubungan yang terbuka dengan sang ibu membuat mereka bisa saling berbicara dan memahami keputusan yang sedang dijalani. Baginya, restu ibu menjadi salah satu kekuatan terbesar sehingga ia ingin menjalani kesempatan tersebut sebaik mungkin.

Datang Bukan Sekadar untuk Mencari Uang

Bagi Agi, bekerja di Korea bukan sekadar mencari penghasilan. Ia ingin mengelola uang dengan baik, menabung untuk kebutuhan darurat, sekaligus menyiapkan masa depan. Ia bercita-cita memiliki usaha properti dan memanfaatkan keahliannya sebagai mekanik untuk membuka bengkel setelah kembali ke Indonesia. Baginya, pengalaman di Korea harus menjadi bekal untuk membangun kehidupan yang lebih mandiri.

Selain untuk keluarga, Agi juga ingin membuktikan bahwa dirinya mampu. Meski ada yang meremehkan keputusannya untuk bekerja ke Korea, ia menjadikannya sebagai motivasi. 

“Banyak yang meremehkan mau ke Korea. Jadi saya ingin membuktikan bahwa saya bisa hidup di Korea.” ujarnya

Ia ingin pulang bukan hanya membawa hasil kerja, tetapi juga pengalaman, keterampilan, dan keyakinan bahwa ia mampu bertahan serta berkembang di negeri orang.

Doa dan Pesan untuk teman-teman PMI seperjuangan 

Menjelang keberangkatan ke Korea, Agi membawa bekal lebih dari sekadar fisik dan keterampilan. Ia membawa doa untuk kesehatan, keselamatan, rezeki yang berkah, dan masa depan yang lebih baik, termasuk harapan untuk dipertemukan dengan jodoh. Kepada teman-teman seperjuangan yang akan menjadi PMI, Agi juga berpesan, “Jaga kesehatan, jaga mata hati, dan tetap jaga iman.”

Agi sadar, perjalanan di negeri orang tidak selalu mudah. Namun, ia memilih melangkah demi masa depan dirinya dan keluarga. Di Cirebon, ada seorang ibu yang menunggu kepulangannya, sementara di Korea ia akan belajar berdiri dengan kakinya sendiri, menghadapi pengalaman baru, dan membawa pulang bekal untuk kehidupan yang lebih baik.