Hari Pertama di Hong Kong: Takut, Tapi Aku Harus Kuat
Kaki gemetar turun dari pesawat, hati campur aduk. Ini kisah nyata hari pertama Kak Rina jadi PMI di Hong Kong, dari takut sampai akhirnya berani.
Aku masih ingat betul, malam sebelum berangkat, aku hampir tidak tidur. Bukan karena kerjaan rumah yang belum kelar, tapi karena pikiran yang berputar terus. Besok, aku akan pergi jauh dari anak dan suami, demi mengubah nasib keluarga.
Di kampung, aku cuma buruh cuci yang penghasilannya pas-pasan. Suamiku kerja serabutan, kadang jadi kuli bangunan, kadang narik ojek kalau ada panggilan. Penghasilan kami berdua tidak menentu, sementara dua anakku, yang besar kelas 5 SD dan yang kecil baru masuk TK, butuh biaya sekolah tiap bulan.
Utang mulai menumpuk sejak anak sulung sakit tifus dan harus dirawat seminggu di rumah sakit. Belum lunas, giliran atap rumah bocor parah waktu musim hujan, mau tidak mau kami pinjam lagi ke tetangga. Waktu itu aku mikir, "Kalau bukan aku yang berjuang, siapa lagi?" Dari situ aku mantap daftar jadi PMI ke Hong Kong ke salah satu PT yang ada di kota dekat rumahku. Suami dan aku terus berdoa dan berserah sambil mengikuti semua prosesnya, dari pengumpulan dokumen, pelatihan, hingga wawancara dengan majikan.
Reaksi Keluarga yang Bikin Hati Makin Berat
Akhirnya, aku mendapat kontrak pertamaku. Ibuku menangis waktu aku dapat tanggal berangkat. Suamiku diam saja, tapi aku tahu dia khawatir. Anakku yang masih kecil terus bertanya, "Ibu pergi berapa lama?" Pertanyaan itu yang paling susah aku jawab.
Pertama yang Bikin Shock
Begitu turun dari pesawat, udara dingin langsung menusuk kulit. Semua serba asing: tulisan tidak terbaca, orang bicara cepat, aku cuma bisa senyum dan mengangguk. Staf agen sudah menunggu di bandara, wajahnya datar dan tidak banyak bicara, langsung mengantarku ke boarding house untuk istirahat semalam sebelum bertemu majikan besok paginya. Malam itu aku menangis diam-diam di kamar, takut kedengaran teman sekamar.
Minggu pertama paling berat. Jam kerja panjang, aku harus belajar semua dari nol: cara pakai mesin cuci yang beda, cara masak sesuai selera majikan, sampai cara menjaga Ah Ma yang kadang rewel. Sempat terpikir, "Aku salah ambil keputusan." Tapi tiap kali video call sama anak, semangatku muncul lagi. Aku ingat alasanku berangkat.
Perlahan Mulai Terbiasa
Bulan kedua, aku mulai hafal rutinitas. Aku belajar kosakata Kanton sederhana dari teman sesama PMI yang kukenal saat belanja di pasar, seperti cara sebut nama sayur, tawar harga, dan tanya arah jalan. Kami sering bertukar cerita saat libur, saling menguatkan. Dari situ aku sadar, aku tidak sendirian.
Soal gaji, awalnya aku bingung mengatur. Untung ada kakak senior yang mengajari: sisihkan dulu untuk kirim ke keluarga, simpan sebagian untuk tabungan, baru sisanya untuk kebutuhan sendiri. Kebiasaan itu yang membuatku, dalam waktu sekitar delapan bulan, perlahan bisa melunasi utang di kampung.
Harapan yang Menguatkan Langkah
Sekarang, tiap kali capek, aku bayangkan wajah anakku memakai seragam sekolah baru dari hasil kerjaku. Itu yang membuatku bertahan. Rencananya, setelah 2 kontrak lagi aku pulang Indonesia dan buka usaha kecil di kampung.
Buat teman-teman yang baru mau berangkat, jangan takut berlebihan. Wajar kalau di awal terasa berat. Yang penting, cari komunitas, jaga komunikasi dengan keluarga, dan ingat selalu alasan kenapa kita berjuang. Perjalanan ini berat, tapi bukan berarti kita jalan sendirian.