Kembali ke Singapura Setelah 10 Tahun: "Berat Ninggalin Anak, Tapi..."
Setelah 10 tahun di kampung, Ari terpaksa kembali merantau ke Singapura. Sebuah kisah pengorbanan tentang cinta, air mata, dan demi masa depan anak.
Halo Teman Rantau. Pernahkah Kakak membayangkan rasanya harus kembali mengemasi koper dan paspor setelah 10 tahun lamanya menetap nyaman di rumah?
Itulah yang dirasakan oleh Ari Oktaviani (36 tahun). Sepuluh tahun lalu, ia sempat bernapas lega bisa pulang ke Lampung, menikah, dan menimang dua buah hati. Ia pikir, masa-masanya menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Singapura sudah tamat. Namun, takdir berkata lain. Tahun ini, Ari harus menelan ludah dan kembali menapakkan kaki di negeri singa.
Alasan yang Mengalahkan Rasa Rindu
Bagi Ari, kembali merantau bukanlah keputusan yang diambil dalam semalam. Hatinya sering teriris melihat realita di kampung halaman. Sang suami sudah berusaha keras banting tulang bekerja serabutan, namun pendapatannya tak menentu. Pendapatan pas-pasan itu rasanya mustahil bisa mengejar biaya hidup yang terus naik.
Setiap kali menatap wajah dua anaknya yang kini berusia 10 dan 6 tahun, ada ketakutan besar di dada Kak Ari.
"Saya cuma ingin anak-anak bisa punya tabungan untuk masa depan, bisa sekolah tinggi, dan bisa menggapai impian mereka," batinnya. Demi masa depan dua malaikat kecilnya itulah, Ari rela mengorbankan kebahagiaannya sendiri.
Pamit yang Paling Menyesakkan Dada
Bagi seorang ibu yang merantau, ketakutan terbesarnya bukanlah pekerjaan berat atau omelan majikan di negeri orang. Ketakutan terbesarnya adalah membayangkan bagaimana keluarga di rumah tertatih-tatih hidup tanpa kehadiran kita.
Momen meminta izin kepada sang suami adalah saat yang paling berat. Ada kecemasan, ada air mata, namun pada akhirnya sang suami memberikan restu meski dengan hati yang sama-sama berat. Keikhlasan keluarga di rumah inilah yang menjadi kekuatan Ari.
Beruntungnya, jalan pengorbanan Ari sedikit dipermudah Tuhan. Proses keberangkatannya kali ini sangat lancar. Semua dokumen dan dana diurus tuntas oleh pihak PT, dan ia bahkan sempat mendapat teman-teman seperjuangan baru saat mengikuti Orientasi Pra Pemberangkatan (OPP).
Satu Kalimat Penguat di Kala Sepi
Kini, di tengah gemerlapnya Singapura dan rutinitas kerja yang melelahkan, rasa rindu rumah pasti sering datang menyergap. Bagaimana Ari bertahan?
Ia punya satu mantra sederhana yang selalu diulang di dalam hati setiap kali rasa lelah dan rindu itu datang: "Saya di sini bekerja untuk keluarga."
Kalimat itulah yang menjadi bahan bakarnya untuk terus berdiri tegak. Semua keringatnya hari ini sudah punya tujuan yang jelas: membangun tabungan pendidikan untuk anak-anaknya.
Mimpi Sederhana: Pulang dan Tak Pergi Lagi
Seperti jutaan Teman Rantau lainnya, Ari punya satu mimpi besar di akhir kontraknya nanti. Ia tidak ingin menghabiskan sisa usianya di negeri orang. Tabungan yang ia kumpulkan kelak akan dijadikan modal usaha di kampung halaman.
Kisah Ari adalah tamparan sekaligus pelukan hangat bagi kita semua. Merantau sering kali bukan sekadar ajang mencari uang, tapi bukti cinta tak bersyarat untuk keluarga.
Untuk Ari dan seluruh Teman Rantau yang sedang berjuang menahan rindu, sehat-sehat selalu di sana, ya. Keringatmu hari ini adalah senyum cerah keluarga di masa depan!